Sejarah Mandailing PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 22 February 2013 03:40

SEJARAH MANDAILING NATAL

Nama Mandailing sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka. Kata Mandailing disebut dalam buku Nagarakertagama, buku itu ditulis oleh Mpu Prapanca di masa pemerintahan Majapahit. Buku itu menceritakan tentang adanya usaha perluasan kerajaan Majapahit ke wilayah Sumatera pada abad ke-14, atau sekitar tahun 1365 Masehi.

Disebutkan dalam buku itu beberapa kerajaan Melayu di Sumatera yang telah tunduk di bawah kerajaan Majapahit, termasuk Mandailing. Serangan Majapahit ke wilayah Mandailing membuat penduduk lari ke pedalaman. Wilayah Mandailing pada masa itu masih beragama Hindu dan memuja Dewa Siwa.

Belum ada penelitian yang dapat menjelaskan bagaimana keadaan Mandailing sejak masa serangan Majapahit itu hingga beberapa tahun kemudian. Sebagian pendapat mengatakan bahwa penduduk yang lari ke pedalaman membentuk klan marga pulungan. Artinya, orang yang dikumpul-kumpul. Abad ke 14 mereka lalu mendirikan kerajaan pulungan yang pertama. Setelah itu, klan marga Nasution juga mendirikan kerajaan besar di Panyabungan yang menguasai kawasan Mandailing Godang.

Kera jaan Tertua

Belum dapat dipastikan kapan persisnya berdiri kerajaan pertama di Mandailing. Tetapi reruntuhan candi di Simangambat sudah dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi tersebut dibangun dengan arsitektur Hindu. Dilaporkan pertama kali oleh Schnitger tahun 1937. Candi ini diyakini jauh lebih tua usianya dibandingkan dengan candi-candi berlatar belakang hindu yang ada di Sumatera Utara.

Selain situs candi di Simangambat, adanya kerajaan tertua juga dibuktikan dengan berdirinya kerajaan Pane yang berpusat di kawasan Padang Bolak. Kerajaan Pane tersebut juga diceritakan dalam catatan-catatan perjalanan orang-orang Cina. Buku itu beberapa kali menyebut kata Mandailing, Pane, dan Padang Lawas.

Kerajaan Pane berpusat di tepi Sungai Barumun dan Sungai Batang Pane dan banyak berhubungan dengan dunia internasional. Penduduk banyak dikirim ke Champa dan India. Kerajaan ini menjadi pusat penyiaran agama Hindu dan Budha. Toba, Mandailing dan Pane diyakini sebagai segi tiga emas sebagai pusat peradaban dan penyiaran agama. Dan aksara tulak-tulak yang dikenal di Mandailing diyakini berasal dari pengaruh Hindu Budha. Bahkan beberapa studi menunjukkan bahwa beberapa pendeta India yang berkulit hitam lalu menetap di Mandailing, juga para pedagang dari Cina dan Aceh, dan lain-lain.

Hal itulah yang mendukung bukti-bukti bahwa kerajaan Mandailing sudah ada sejak abad ke-6 masehi.

Masuknya Agama Hindu

Agama Hindu masuk ke Mandailing dibawa oleh suku bangsa lain yang ingin mencari emas. Sebab, pada saat itu Pulau Sumatera terkenal dengan nama Swarna Dwipa (Pulau Emas). Mereka diyakini datang dari India. Kita menyebutnya orang Koling. Emas Mandailing pada saat itu banyak digemari dalam perdagangan emas di pasaran dunia.

Orang Koling masuk melalui muara Sungai Batang Gadis di Singkuang. Pelabuhan Singkuang pada saat itu sudah terkenal sebagai pelabuhan penting dan banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari Cina.

Selain itu, pedagang Cina juga diyakini sudah masuk ke Mandailing sejak abad pertama masehi. Sebagian hidup menetap di Mandailing hingga abad ke-13.

Beberapa pedagang menyusuri Sungai Batang Gadis untuk mencari pusat-pusat galian emas. Mereka banyak berintegrasi dengan penduduk pribumi di sekitar pusat-pusat galian emas. Interaksi tersebut menularkan agama Hindu kepada masyarakat pribumi. Bukan hanya dalam agama, sosial budaya pribumi juga terpengaruh dengan kedatangan mereka. Proses akulturasi tersebut diyakini banyak mempengaruhi tatanan masyarakat pribumi kemudian hari.

Kerajaan Mandailing

Mandailing diperintah oleh raja yang berkuasa secara turun-temurun. Wilayah kerajaannya mulai dari lingkup desa sampai gabungan beberapa desa. Secara tradisional, raja dan pembantunya dipanggil sebagai Namora-Natoras.

Selain itu, ada juga yang membagi Mandailing atas dua kelompok besar, yakni Mandailing Godang dan Mandailing Julu. Mandailing Godang didominasi marga Nasution. Mereka menempati kawasan yang berbatasan dengan Sihepeng (sebelah Utara), Maga (sebelah Selatan), dan Muarasoma serta Muara Parlampungan (sebelah Barat). Mandailing Julu didominasi oleh marga Lubis. Mereka menempati kawasan mulai dari Laru dan Tambangan sampai Pakantan dan Hutagodang.

Selain marga Nasution dan Lubis, Mandailing juga didiami marga Pulungan, Rangkuti, Batubara, Daulay, Matondang, Parinduri, Hasibuan, dan lain-lain. Sekalipun marga-marga ini berbeda masuknya ke Mandailing, tetapi tidak ada yang mau disebut sebagai warga pendatang. Semuanya merasa sebagai penduduk asli Mandailing.

MANDAILING DI MASA KOLONIALISME

Pada awal masuknya kolonialisme di Mandailing Natal, sebagian besar penduduknya diyakini sudah menganut agama Islam. Islam diduga masuk dari arah Pesisir Tapanuli. Tetapi ada juga minoritas penganut Kristiani yang bermukim di wilayah Pakantan, Mandailing Julu. Mandailing diperintah oleh raja yang bersifat turun-temurun. Sistem pemerintahan ini tetap berjalan sampai masuknya masa kolonialisme. Raja terbagi atas beberapa tingkatan:

1. Raja Panusunan, yaitu raja tertinggi yang menguasai beberapa kesatuan huta.

2. Raja Ihutan, raja yang menguasai beberapa huta di bawah Raja Panusunan.

3. Raja Pamusuk, raja yang memimpin satu huta di bawah Raja Ihutan.

4. Raja Sioban Ripe, raja yang memimpin satu pagaran, satu kawasan kecil yang belum memenuhi syarat sebagai huta. Raja ini dibawah kekuasaan Raja Pamusuk.

5. Suhut, pemuka adat yang berada di bawah raja Pamusuk dan Raja Sioban Ripe.

Huta merupakan satu kawasan yang sudah memiliki dalihan natolu, namora na toras, suhut, bayo-bayo, ulubalang, datu, sibaso, sopo godang. Jika syarat tersebut belum terpenuhi, maka kawasan itu hanya disebut pagaran. Disebut pagaran karena tanahnya yang sempit dan penduduknya masih sedikit. Misalnya, Pagaran Sigatal, Pagaran Tonga.

Pagaran yang tumbuh dan berkembang dapat menjadi Lumban. Misalnya Lumban Pasir.

Jika penduduknya lebih kecil lagi dari Pagaran, disebut dengan Banjar. Misalnya, Banjar Sibaguri.

Raja Panusunan di Mandailing Godang berasal dari satu keturunan marga Nasution yang berkuasa di 9 wilayah, yakni:

· Panyabungan Tonga

· Huta Siantar

· Pidoli Dolok

· Gunung Tua

· Gunung Baringin

· Panyabungan Julu

· Maga

· Muarasoma/Muara Paralampungan

· Aek Nangali.

Raja Panusunan di Mandailing Julu berasal dari marga Lubis. Mereka memerintah di enam wilayah, yakni:

· Singengu

· Sayur Maincat

· Tambangan

· Manambin

· Tamiang

· Pakantan.

Masuknya Belanda

Mengapa Belanda menjajah Mandailing? Tidak jauh berbeda dengan daerah lain, kolonial Belanda masuk ke wilayah ini karena ingin menguasai kekayaan alamnya yang melimpah.

Setelah Belanda menduduki Mandailing tahun 1833, mereka kemudian melakukan perubahan atas kedudukan raja. Perubahan itu antara lain:

· Raja Panusunan diganti dengan Kepala Kuria

· Raja Pamusuk diganti menjadi Kepala Kampung

· Raja Ripe menjadi Kepala Ripe.

Jika sebelumnya raja hanya memiliki fungsi adat, mereka kemudian diberi kedudukan sebagai kepala pemerintahan. Barulah pada tahun 1947, Residen Tapanuli ketika itu, Dr. FL Tobing, menghapuskan kedudukan Kuria itu dan menggantinya dengan Dewan Negeri.

Kekayaan Alam di Masa Kolonial

Mandailing Natal diyakini sebagai daerah yang subur. Mandailing dikelilingi oleh gunung-gunung yang di tengahnya terhampar tanah yang subur dan luas. Mandailing dibelah oleh Sungai Batang Gadis yang mengalir mulai dari Mandailing Julu di bagian Timur, melintasi Selatan, menyusur bagian Barat, lalu bermuara ke Utara. Dengan begitu, kawasan Mandailing menjadi daerah yang subur dan lumbung padi pada zaman dahulu.

Mandailing Julu yang terletak di kaki gunung sangat cocok untuk mengembangkan tanaman kopi. Kopi dikembangkan Belanda melalui Tanam Paksa pada abad ke 19. Tempatnya dipilih di kawasan Pakantan dan Hutagodang yang berhawa sejuk. Hasil tanaman kopi ini menjadi komoditas ekspor utama Mandailing. Bahkan kopi ini sangat terkenal sampai ke Eropah. Ada yang menyebutnya “Mandailing Coffee.” Sebagian Eropah yang lain menyebutnya “Coffee Pakant” (untuk maksud kopi Pakantan).

Selain itu, Mandailing yang banyak memiliki pohon enau, juga menjadi penghasil gula aren (gulo bargot) yang sangat terkenal di Sumatera Utara. Bahkan terkenal sampai ke Sumatera Barat. Usaha gula aren ini biasanya dijadikan tambahan penghasilan bagi keluarga, bukan usaha satu-satunya.

Di Mandailing Julu banyak ditemukan bekas penambangan emas. Ini menandakan bahwa bumi Mandailing memang memiliki cadangan emas yang luar biasa. Misalnya bekas penambangan emas di Huta Godang yang disebut garabak ni agom, atau bekas tambang emas Belanda di Muara Sipongi. Bahkan sepanjang Sungai Batang Gadis yang bermuara ke Singkuang diyakini mengandung biji emas, sehingga masih terus banyak penduduk yang mendulang emas (manggore). Pantas kalau Mandailing disebut dengan Tano Sere.

Berbagai kekayaan alam itu membuat bangsa Eropah melakukan ekspansi ke Mandailing. Bahkan sebelum Belanda masuk, Portugis sudah lebih dulu menguasai Natal. Pelabuhan Natal menjadi pelabuhan yang penting untuk mengangkut komoditas ekspor hasil bumi Mandailing ke Eropah.

Mandailing Natal mengalami sejarah yang panjang dalam hal pergolakan mencapai kemerdekaan. Perlawanan terhadap kolonialisme di Mandailing berawal ketika Perang Paderi meluas sampai ke daerah Mandailing. Perang Paderi bukan hanya menandai perlawanan terhadap Belanda, tetapi juga menandai dominasi agama Islam di Mandailing Natal kemudian.

Paderi dan Perjuangan Kemerdekaan

Masuknya Paderi di Mandailing diyakini tidak hanya sekedar perluasan Islam atau kepentingan perdagangan. Sebab, sebelum Paderi masuk, Islam sudah lebih dahulu berkembang di Mandailing. Tuanku Lintau, misalnya, salah seorang tokoh gerakan Paderi, pernah belajar agama di Natal.

Banyak pemikir Mandailing yang meyakini bahwa bantuan Belanda terhadap raja-raja tradisional Mandailing untuk memerangi gerakan Paderi, juga membawa misi untuk memperluas kekuasaannya di wilayah Utara Minangkabau, termasuk Mandailing. Ketika pasukan Belanda sampai di Sundatar—sebelah Selatan Rao—Belanda menyiarkan kabar bahwa jika rakyat di wilayah itu tidak mau tunduk kepada Belanda, maka mereka akan digempur.

Tahun 1832, ketika pimpinan tentara Belanda Kolonel Elout dan Letnan Engelbert berada di Rao, Raja Gadombang dari Huta Godang di Mandailing menawarkan bantuannya kepada tentara Belanda untuk ikut membasmi kaum Paderi. Sikap Raja Gadombang itu diyakini sebagai balas dendamnya atas perlakuan sewenang-wenang kaum Paderi terhadap raja-raja tradisional Mandailing. Belanda kemudian mengangkat Raja Gadombang sebagai Regen Mandailing. Tanggal 22 Januari 1833, berlangsung pertemuan antara opsir Belanda dengan Raja Gadombang, Tuanku Natal yang pro-Belanda, dan beberapa hulu balang Batak. Di samping mereka, Sutan Malayu dari Pakantan dan Datuk Gagah Tengah Hari dari Muarasipongi juga turut membantu Belanda memerangi pasukan Paderi.

Kalah dari pasukan Paderi, Belanda mundur ke sebelah Utara Rao bersama 800 orang pasukan Raja Gadombang. Tanggal 28 November 1883, mereka bermalam di Limau Manis, Muara Sipongi. Esok hari, mereka bergerak ke Desa Tamiang, bertahan di sebuah mesjid. Dari Tamiang, mereka mendirikan benteng di Singengu dan Kotanopan. Tahun 1835, Bonnet, kontrolir Belanda pertama kali ditempatkan di Mandailing. Inilah jejak awal masuknya Belanda di wilayah Mandailing Natal. (sumber: mandailing.org)

Beberapa bentuk perlawanan kepada Belanda muncul. Termasuk perlawanan dari Sutan Mangkutur, adik Raja Gadombang, dan perlawanan dari beberapa raja di Mandailing Julu. Tetapi dengan tipu muslihat, perlawanan itu segera dapat dipatahkan Belanda. Sutan Mangkutur di buang ke Jawa dengan beberapa orang kerabatnya.

Perlawanan Sosial

Selain perjuangan bersenjata, patut dicatat perjuangan yang dilakukan Willem Iskander untuk mencerdaskan penduduk pribumi Mandailing. Kembali dari Belanda dalam usia 22 tahun, ia mendirikan sekolah guru Kweekschool Tanobato pada tahun 1862. Sampai tahun 1874, Willem Iskander memimpin sekolah tersebut dan dapat memberikan peran pencerdasan terhadap penduduk Mandailing.

Di samping itu kita patut mengenang tokoh-tokoh lain yang turut mewarnai jejak sejarah Mandailing. Mereka yang bergerak di bidang pendidikan, misalnya, tidak kecil peranannya dalam benumbuhkan kesadaran berbangsa bagi penduduk pribumi. Karena itu, kita layak menandai jasa-jasa para guru-guru Mandailing ini. Sebutlah Sutan Oloan dan Pangulu Lubis yang dikenal dengan Guru Batak yang berasal dari Pakantan.

Hollandsch Inlandsche School (HIS) Kotanopan pun memberikan peran penting dalam pencerdasan bangsa. Sekolah itu dipimpin oleh Todung gelar Sutan Gunung Mulia. Di antara guru-gurunya terdapat Sutan Soripada Mulia, tokoh yang besar jasanya dalam bidang pendidikan.

HIS swasta Panyabungan memiliki guru-guru semacam Baginda Mangaraja Mulia Parlaungan yang berasal dari Pidoli Dolok. Setelah menyelesaikan sekolahnya di Europesche Lagere School (ELS) melanjutkan sekolahnya di MULO Bukit Tinggi.

Dari Tamiang, dikenal guru-guru seperti Guru Nursyirwan Adil dan istrinya Guru Syamsiah Lubis (putri Sutan Guru Panusunan, Raja Tamiang XI), Guru Puncak gelar Sutan Soripada Oloan, Guru Bosur gelar Sutan Naparas, Guru Gunung gelar Baginda Raja. Dari Muara Botung dikenal Guru Gading gelar Sutan Mangaraja Enda.

Tumbuhnya kalangan terdidik, mengubah bentuk perlawan terhadap Belanda. Para tokoh terpelajar Mandailing ini menandai awal gerakan kemerdekan.

Untuk menandai perlawanan rakyat Mandailing kepada Belanda, didirikan beberapa monumen, yaitu:

Tugu Pahlawan Kotanopan

Tugu ini terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pasar Kotanopan. Bentuk tugu kerucut dengan ukuran dasar 4 meter dan tingginya 7 meter. Tugu ini menandai heroisme perang kemerdekaan. Tokoh yang terlibat dalam perang heroik itu antara lain H. Mahals, Raja Junjungan, Sutan Singengu, dan lain-lain.

Tugu Perintis Kemerdekan Kotanopan

Tugu ini menandai perjuangan politik para perintis kemerdekaan di Mandailing. Nama-nama mereka tercatat sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan asal Sumatera Utara, antara lain: HM Ali Hanafiah Lubis, Yahya Malik Nasution, Tinggi Lubis, Makmur Lubis, H. Ayub Sulaiman Lubis, BB Abd. Rahman Parinduri, H. Adam Malik Batubara, Abdul Hamid Lubis, Buyung Siregar, Muhidin Nasution, Abu Kosim Daulay, Ilyas El Yusufi, M. Yunan Nasution, Muslim Arip Lubis, Ahmad Nasution, Abd. Gani Nasution, M. Marasudin Halim Hasibuan, Mangaraja Ihutan Lubis, Mangaraja Sayuti Lubis, Anwar Nasution, Adnan Nur Lubis, M. Taib Matondang, Ayub Lubis, Abd. Azis Lubis, KH Ahmad Nasution, dan lain-lain.

Sebagian besar diantaranya ditangkap awal tahun 1930-an. Mereka kemudian di pindahkan ke Penjara Sukamiskin Bandung bersama Soekarno yang juga ditahan di sana. Pertengahan tahun 30-an mereka dipindahkan ke kamp tahanan politik Belanda di Digul Irian Jaya. Mereka bergabung dengan tokoh-tokoh pergerakan lain yang sudah lebih dulu ada di sana, seperti Hatta, Sutan Sahrir, Sayuti Melik, dan lain-lain. Untuk menandai jasa-jasa mereka, dibangunlah Tugu Perintis Kemerdekaan di depan Pesanggerahan Kotanopan. Tempat ini merupakan pesanggerahan terbagus di Sumatera pada abad ke-19. Bahkan Soekarno juga mengadakan rapat raksasa di tempat ini pada tanggal 16 Juni 1948.

Tugu Bendera Kotanopan

Tugu ini didirikan pada awal kemerdekaan, karena itu bentuknya sangat sederhana. Padahal, tugu ini menandai sejarah penting Mandailing, karena di tempat itu pertama kali pembacaan Proklamasi di Kotanopan. Proklamasi itu menandai berakhirnya kekuasaan kolonial di Mandailing yang bermula sejak masa Perang Paderi.

Masuknya Islam ke Mandailing Natal

Sebagaimana kepercayaan di wilayah Sumatera Utara lain, penduduk Mandailing masih percaya pada kekuatan si Pele Begu. Kepercayaan ini erat kaitannya dengan sistem kepercayaan dalam agama Budha dan Hindu yang memang ditemukan pengaruhnya di sekitar Mandailing Godang. Masa sebelum masuknya Islam disebut dengan masa kegelapan (na itom na robi). Mandailing percaya kepada kekuatan spritual Sibaso dan Datu. Datu dianggap orang yang memiliki pengetahuan khusus. Misalnya pengetahuan tentang kapan mulai bercocok tanam, menentukan hari pernikahan, menghindari bahaya, dan lain-lain. Dalam konsep modern, datu berarti orang memiliki pengetahuan medis tradisional.

Jejak Hindu di Mandailing tampak dari reruntuhan candi di Simangambat Kec. Siabu dan Saba Biara di Panyabungan. Candi itu diperkirakan berasal dari abad ke 8 dan 9 Masehi. Relief dan ornamennya menyerupai candi-candi di Jawa Tengah. Atau Pilar Batu di desa Maga yang bertuliskan aksara Jawa Kuno bertanggal 9-9-1242.

Masuknya Islam ke Mandailing tidak dapat dilepaskan dengan Perang Paderi (1821-1838). Masuknya pasukan Paderi dari Sumatera Barat telah mendorong perubahan sosial dalam tatanan masyarakat Mandailing. Sebelumnya memang sudah ada beberapa orang Mandailing yang belajar Islam di Bonjol. Tetapi ketika pasukan Paderi masuk, mereka melakukan peng-Islam-an lagi secara besar-besaran.

Kelompok Paderi ini sangat dipengaruhi oleh konsep ideologi Arab. Mereka sering disebut dengan “Orang Putih.” Kelompok Paderi ini memiliki pola tingkah laku tertentu. Dja Endar Moeda, misalnya, salah seorang penulis buku tentang Mandailing di abad ke-20, mengatakan bahwa:

Adapoen orang poetih itu tiada boleh merokok, makan sirih, menjaboeng. Segala perempoean bertoetoep muka. Segala orang jang melanggar peratoeran ini, dihoekoemnya dengan hoekoeman seksa yang amat berat.

Sikap keras seperti itu tentu saja mendapat perlawanan dari raja-raja Mandailing ketika itu yang masih didominasi tatanan tingkah laku adat. Perlawanan dilakukan oleh faksi pro-Adat, Patuan Naga dan Raja Gadombang. Patuan Naga adalah Radja Panoesoenan di Panyabungan, Mandailing Godang. Raja Gadombang, Raja Huta na Godang.

Tetapi dua tokoh penting Padri ketika itu yang membawahi Mandailing, Tuanku Tambusai (Pakih Saleh) dan Tuanku Rao, membalas dengan melakukan penyiksaan bagi mereka yang menolak tata hidup yang dibawa Paderi. Selain dipengaruhi ideologi “jihad” yang mereka ambil dari Arab, kelompok Paderi ini juga membawa nilai-nilai kemerdekaan dan anti kolonialisme.

Selama Perang Paderi, Tuanku Tambusai, setelah pulang dari Mekah mengajarkan Islam di wilayah Padang Lawas, Padang Bolak, Sipirok, dan Mandailing. Tahun 1995, Tuanku Tambusai diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Tuanku Rao mengganti namanya menjadi Pakih Muhammad. Ia merupakan Imam Besar di Rao, diyakini merupakan keturunan Lubis dari Hutagodang.

Selama satu dekade, Paderi mendominasi wilayah Mandailing melalui kekuasaan qadi. Kekuasaan qadi merupakan bentuk yang sangat efektif untuk menunjukkan bentuk pemerintahan Islam ketika itu. Qadi bukan sekedar membawa pengaruh nilai-nilai islam, tetapi juga memiliki pengaruh sosial-ekonomi dan politik. Dengan gelar haji, mereka identik dengan seseorang yang memiliki pengetahuan agama yang luas dan mampu membawa nilai-nilai persaudaraan Islam (ummah) di Mandailing dengan dunia Arab secara luas. Mereka juga membawa budaya Islam ke Mandailing. Jika di Minangkabau Paderi membawa konsep Adat Basandi Syarak, maka di Mandailing diubah menjadi Ombar adat dohot ugamo.

Konsep ini yang menjadi cikal bakal konsep Islam Mandailing sampai saat ini. Orang-orang mulai mengalihkan nama-nama tradisionalnya dengan nama-nama yang berbau Arab. Sejak saat itu, marga dinilai tidak begitu penting lagi di wilayah Mandailing, karena lebih mementingkan nilai-nilai persaudaraan muslim.

Periode Padri ini di Mandailing disebut dengan maso di na rinca (Periode Tuanku Nan Renceh), nama salah seorang pemerintahan Padri di Mandailing.

 

Last Updated on Saturday, 02 March 2013 20:04